|
HINGGA saat ini (28/11) teknis penghentian semburan lumpur di Kalsel belum ditentukan. Demikian pula, kandungan yang terbawa semburan lumpur yang keluar dari sumur bor yang digali oleh Ketut Tegal, masih terus dalam penelitian, sebagaimana yang terjadi pada kasus Lapindo di Jawa Timur.
Semburan lumpur di Kalsel itu berada di desa Kolam Kanan, Kecamatan Barambai, Kabupaten Barito Kuala. Sumber semburan berasal dari sumur bor sedalam 135 meter, yang digali didepan rumah, Ketut Tegal, Rabu lalu (22/11), dengan maksud mencari air bersih.
Semburan lumpur tersebut sempat mencapai setinggi pohon kelapa. Namun, pada hari Jumat (24/11) tekanan semburan telah berubah menjadi setinggi satu hingga dua meter. Demikian pula, material yang keluar dari semburan, telah berubah sebagian besar gas dengan sedikit lumpur. Namun, untuk lubang semburan semakin lebar. Pada awalnya hanya sebesar pipa sumur bor, kini diameternya mencapai sekitar 5 meter.
Tentang kandungan yang terbawa semburan, pada sampel pertama menunjukkan material gas lebih banyak ketimbang lumpur. Antara lain hidrogen sulfida dan Nitrit. Berdasarkan catatan, Nitrit perlu diwaspadai, berbahaya bagi manusia jika kadarnya di atas 0,1 particle per million (ppm). Saat ini kandungan nitrit masih di bawah 0,05 ppm
Akibat peristiwa itu, beberapa warga mengungsi, khawatir rumahnya terendam. Dua rumah warga yang mulai tergenang lumpur terpaksa dibongkar. Di samping itu, setiap hari di dekat semburan lumpur, warga Desa Kolam Kanan juga melakukan ritual agama Hindu Bali untuk menolak bala. Mereka berharap semburan segera berakhir.
Peristiwa ini menarik perhatian warga dari berbagai daerah, yang terus berdatangan untuk melihat langsung semburan tersebut. Sementara, tentang teknis penghentian atau pemanfaatannya belum diperoleh kepastian. - 2201 |