LUMPUR yang dimuntahkan dari perut Gunung Anyar di desa Gunung Anyar, Kec. Gunung Anyar, Surabaya memang tak se-dahsyat Lapindo, sejak tiga puluh empat tahun lebih. Debit lumpur yang dikeluarkan relatif rendah. Namun, lubang-lubang kecil, sebagai mulut keluarnya lumpur, tak pernah berhasil ditutup dengan batuan yang besar. Ketika para bocah bermain menutup salah satu lubang sumber lumpur, selalu muncul sumber baru, sampai sekarang.
Tahun 1973 silam, berdasarkan pengalaman mengunjungi Gunung Anyar, ketika itu di sisi timur, selatan, dan utara dari Gunung ini adalah areal persawahan. Pada bagian barat, dibatasi satu dua petak sawah dalah rumah penduduki. Yakni dusun Gunung Anyar
Ketika itu, bagian atas Gunung Anyar selalu muncul letupan kecil pada sejumlah tempat. kalau di sulut api menyala. Namun, api itu tak bertahan lama, kemudian mati, oleh terpaan anmgin yangkencanang. Posisi Gunung Anyar ketika itu memang sudah lebih tinggi dari sekitarnhya.
Permukaannya lembek, dan ambles. Sehingga tidak bisa berdiri tegak. harus selalu memindahkan kaki bergantian.
Pada perkembangannya, lumpur yang dikeluarkan lebih banyak mengalir ke sisi Utara. Sehingga bagian sisi utara lebih tinggi dari sisi lainnya.
Kini Gunung Anyar telah dikelilingi rumah. Terutama sisi utara, dalam lima tahun terakhir telah berdiri bangunan rumah masyarakat pendatang yang berhimpitan dengan gunung. Seolah pasrah yang bakal terjadi. Terpenting sudah mempunyai rumah, apalagi di Surabaya, meski jalan yang dilaluinya terkadang lincin oleh lumpur yang dikeluarkan dari perut Gunung Anyar.
Untuk penduduk asli Gunung Anyar, tidak ada yang membangun rumah berhimpitan dengan Gunung Anyar. Bahkan, memotong ranting yang ada kawasan itupun "lebih baik tidak". Malah ketika musim undian nomor "buntutan" ramai, banyak pendatang yang bersemedi di gunung ini.
Hingga sekarang, Gunung Anyar memang masih aktif mengeluarkan lumpur, meski tak sebesar Lapindo. Aliran lumpur ini kadang membesar, ketika musim hujan. Ketika sumber aliran itu ditutup oleh batuan besar, selalu muncul sumber aliran baru, seperti ketika pada tahun 1973, banyak bocah bermain di atasnya.
Gunung Anyar juga masih sering menjadi bumi perkemahan oleh murid Sekolah Dasar, khususnya sisi selatan. Teruma musim kemarau, ketika lumpur telah mengering. Tidak perlu pergi jauh hanya untuk melihat gunung, di Surabaya ternyata ada Gunung Anyar, yang bukan sekadar nama seperi gunungsari.
(Pada gambar terlihat bebatuan tertata rapi, untuk mengalirkan lumpur ke arah yang dikehendaki warga setempat)
(00sig00) |