|
HARGA minyak goreng bergejolak. Di tingkat eceran di Surabaya Jawa Timur sepekan terakhir, harga minyak goreng curah eks kelapa sawit naik sekitar 26%. Jika sebelumnya sekitar Rp 6700/Kg, kini menjadi Rp8500/Kg. Hal ini disinyalir karena jatah pasokan pasar dalam negeri terserap untuk kepentingan ekspor, yang memberikan keuntungan lebih baik bagi produsen.
Oleh sebab itu, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofyan Wanandi mengusulkan kenaikan Pungutan Ekspor (PE) minyak sawit mentah (CPO) dari 1,5 persen hingga 10-15 persen. "Bisa temporer hingga satu bulan. Kalau harga stabil, PE bisa diturunkan lagi," katanya di Jakarta, Senin.
Langkah tersebut, seharusnya diambil pemerintah ketika imbauan kepada produsen untuk meningkatkan pasokan ke pasar tidak dipatuhi.
Sofyan menambahkan, Operasi Pasar (OP) minyak goreng juga harus dilakukan oleh produsen. "Jangan pengusaha hanya ambil untung. Selama ini mereka sudah untung dengan harga tinggi CPO itu. Apalagi, kebutuhan dalam negeri kan hanya 20 persen, yang 80 persennya untuk ekspor," jelasnya.
Harga CPO di pasar dunia yang diperkirakan akan terus naik hingga mencapai 800 dolar AS per ton, menyebabkan produsen lebih memilih ekspor dari pada memasok untuk kebutuhan dalam negeri. "Harga CPO di luar negeri tinggi menurut saya baik, tapi jangan sampai kebutuhan dalam negeri tidak tercukupi,"tegasnya.
Ekspor CPO selama ini sebesar 12,1 juta ton. Kebutuhan dalam negeri sebesar 3,8 juta ton, yang digunakan industri minyak goreng 2,8 juta ton dan sisanya untuk industri oleokimia, makanan, dan biofuel. Kebutuhan dalam negeri terbesar di Jawa, mencapai 200.000-280.000 ton per bulan. Di luar Jawa, kebutuhannya mencapai 70.000-90.000 ton per bulan. (11sig35, 05sig02) |