Sajian alternatif yang mengemas berita, kajian dan informasi sebagai inspirasi bisnis & investasi
 
:: demi kepentingan pribadi, kerabat atau relasi, cantumkan data Anda di Publik Direktori. Layanan Free, dari lacak [dot] info, juga dapat diakses dari site ini.  ::
:: VCO itu ternyata mampu selamatkan anjing dari racun Celeng  ::
fajar
halaman utama
kategori berita
TransKota
GlobalNewsLink
IndonesiaWorldNews
sinawar
takhta
benang merah
teropong metafisika
Karakter
potensi
herbal indonesia
bisnis
prospekbiz
KELOMPOK media menjunjung tinggi kemandirian. Hadir sebagai alternatif pilihan hak bagi siapapun untuk mendapatkan pengetahuan, berita dan keputusan. Maka, prospek[dot]biz hanya mengemas data, informasi, berita dan kajian bermakna. Prospek [dot] biz juga tidak melayani permintaan pemasangan iklan banner di halaman depan. :: Administrator/ Pemimpin Redaksi ::
Pemenang Pilgub Jatim 2008 Kini Bergantung PKB Cetak E-mail
::Takhta:: - Pulau Jawa, Provinsi Jawa Timur
26 Mei 2007, Sabtu

PEMENANG pilihan gubernur (Pilgub) Jawa Timur (Jatim) pada 23 Juli 2008, kini bergantung kepada Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Ingin memberikan kemenangan kepada Golkar, PDIP, atau untuk calonnya sendiri. Demikian prediksi, yang diolah dari data terkini.

Haris Sudarno, Calon Terbaik dari PKB Sekarang telah dapat dipastikan. Ibarat sepakbola, PKB memiliki materi pemain paling komplet dan bermain di liga utama. Jumlahnya ada 15 calon gubernur Jatim dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) memaparkan visi dan misi dalam rapat tertutup di hotel JW Marriott Surabaya, Rabu (16/05). Disini PKB mempunyai pemain yang kapasitasnya diatas pesaing, dan memiliki pendukung di luar massa PKB. Yakni Haris Sudarno. Disamping itu, ada juga yang tak populer, yang hanya dapat dimunculkan sekadar penggembira.

Di sini artinya kini kunci kemenangan Pilgub Jatim 2008, telah berada di tangan PKB. Sekarang masalahnya, PKB ingin menang didalam kompetisi atau ambil keuntungan di luar kompetisi Pilgub Jatim 2008, sebagaimana Pilgub Jatim pada 2003.

Ketika itu PKB dengan seijin "komisaris" Gus Dur, ditengarai sebagai sosok yang waskito, justru memilih Kaffi yang tak populer di Jawa Timur untuk maju mewakili partainya. Hasilnya sudah bisa dibaca sebelum permainan dimulai. Calon PKB kalah telak dalam berlaga melawan Imam Oetomo, yang bermain untuk PDIP, meski PKB memiliki kursi terbanyak di DPRD.

Padahal, ketika itu Pilgub belum dilakukan oleh rakyat. Dengan demikian pendukung yang harus dipengaruhi tidak sebanyak yang harus dikerjakan pada Pilgub 2008, yang merupakan pilihan rakyat pertama.

Pengalaman pada Pilgub Jatim 2003 lalu itu, sekaligus makin memperkuat anggapan bahwa PKB ketika itu ternyata lebih memilih ambil keuntungan di luar Kompetisi. PKB lebih memilih menurunkan pemain yang tak memiliki pendukung, meski juga memiliki pemain yang lebih populer.

Kini, sekadar catatan, telah menjadi pertanyaan umum, antara lain oleh para petaruh (judi) yang biasa bertaruh diarena liga. Arah kemenangan yang akan dipilih PKB pada Pilgub Jatim 2008 ini, kalah atau menang.

Hal itu juga sangat beralasan. Apalagi dikaitkan dengan penyataan Laksamana Sukardi, Koordinator Pimpinan Kolektif Nasional (PKN) Partai Demokrasi Pembaruan (PDP) di Pendopo Kabupaten Temanggung, Minggu (13/5), bahwa politik uang adalah penyakit kronis yang menggerogoti sebagian besar partai politik di Indonesia. Hal ini di antaranya terlihat pada proses pencalonan kepala daerah, di mana mereka yang ingin maju dalam bursa pemilihan harus terlebih dahulu memberikan upeti hingga ke tingkat ketua umum partai di tingkat pusat.

UNTUK MENANG
Di sisi lain sosok yang populer dan bersih, yang mampu menggugah simpatisan massa berkecenderungan kering dalam hal ekonomi. Hal ini juga melekat pada diri Haris Sudarno, jenderal yang memang tidak neko-neko, lurus, dan dekat dengan masyarakat Jatim. Ia berulang kali tugas untuk Jatim, yang terakhir sebagai Pangdam V Brawijaya (1993-1995). Maka, bila PKB ternyata lebih memilih sosok Haris Sudarno untuk tampil pada Pilgub Jatim 2008, itu dapat diartikan PKB sungguh berjuang untuk menang.

Untuk saat ini, pemilihan Haris Sudarno, yang juga mantan bos Persebaya (1987-1990) oleh PKB, ini kiranya sangat beralasan. Di sini PKB dapat mengharapkan dua manfaat. Selain akan unggul dalam Pilgub Jatim 2008, setidaknya juga akan merekatkan kembali barisan suporter PKB yang retak, yang sebagian ikut dalam rombongan partai baru, PKNU. Hal ini tidak lain karena Haris sesungguhnya bukan orang baru di Nahdliyin.

Bahkan simpatisan PDIP yang memahami sejarah, diperkirakan akan menjadi pendukung Haris Sudarno. Ini terutama jika PDIP ternyata menurunkan pemain yang kurang memperoleh dukungan dari intern partai dan ini bisa terjadi. Orang-orang PDIP sangat memahami sosok Haris Sudarno, yang juga dekat dengan keluarga Soekarno, sehingga konggres luar biasa PDIP di Surabaya 1993 dapat dilangsungkan dan berhasil mengusung Megawati, sebagai ketua umum hingga sekarang. Ketika itu tanggung jawab stablitas, ada di pundaknya, sebagai ketua Bakorstanasda Jatim.

Demikian pula terhadap massa Golkar dan pegawai negeri sipil (PNS), Haris Sudarno, lebih bisa diterima. Apalagi, Golkar Jatim internnya tak lagi sekokoh dulu, ketika masih ditangan Moch. Said (Alm), yang juga sangat dihormati oleh Haris. Inipun masih ditekan lagi oleh pernyataan-pernyataan Ketua Golkar Jatim, Soenarjo yang juga Wagub dan Soekarwo, yang Sekdaprov, yang sering bersebrangan dan membingungkan PNS. Soekarwo bagaimanapun bapaknya PNS di Jatim. Dialah yang memiliki eselon tertinggi.

UNTUK KALAH
Sebagaimana di arena balap maupun sepakbola Liga, bermain untuk kalah adalah salah satu tujuan dari manajemen. Dengan kekalahan pun, ada sasaran yang bisa diraih lebih baik.Demikian pula, jika PKB menurunkan pemain lain, diluar pemain utama, Haris Sudarno, itu artinya PKB akan mengulang Pilgub 2003, dan memberikan kesempatan kepada Golkar dan PDIP untuk berlaga di medan yang sepi.

Jika hal demikian yang terjadi, berarti kesempatan menang bagi Golkar sangat ditentukan oleh PDIP. Bila PDIP menurunkan pemain utama Soekarwo, Golkar harus berjuang penuh, bagai jeep di medan off road, berat. Meskipun suporter dari PAN dan PPP telah diikat untuk tidak memilih Soekarwo, dengan tampilnya koalisi PPP dan PAN, yang memang tampil untuk kalah.

Namun hal itu belum tentu terjadi. Kasus Jemundo masih sangat mengkhawatirkan buat Soekarwo, yang telah mengantongi dukungan terbanyak dilingkungan PDIP, yakni 22 Dewan Pimpinan Cabang (DPC) dibanding Soetjipto, yang didukung 11 DPC.

Bahkan, untuk massa di luar PDIP Soekarwo dalam ekstra kampanyenya, sebelum kasus jemundo, juga telah menggarapnya, yakni memilih menyenandungkan tembang-tembang pujian Islam berbahasa Jawa, yang pada rekamannya diberikan label Shalawatan Kontemplatif. Di Jatim, hal ini lebih menyejukkan ketimbang “peluru” yang ditembakan Soenarjo, dengan dagelan dan wayang.

Namun, semua kembali ke penguasa, PDIP pusat. Bila ternyata PDIP menurunkan pemain kedua Soetjipto, Golkar dengan Soenarjo dapat berlenggang menggantikan Imam Oetomo. Tapi, mungkinkah itu, sementara 19 Pilkada dati II di Jatim, Golkar selalu kalah, kecuali di dua daerah. Ini pun calon Golkar yang ditampilkan bukan orang baru, melainkan sebelumnya, telah menjabat sebagai kepala daerah.

Bagaimana pula massa di kawasan pantai utara, dari Banyuwangi hingga Bojonegoro, yang merupakan basis hijau itu. Benarkah masyarakat pesisir utara ini sekarang mendadak gandrung dengan dunia wayang, sebagaimana citra yang melekat pada diri Golkar Soenarjo. Ini menjadi pertanyaan besar.

Namun perjuangan berat Golkar dan PDIP diperkirakan akan tumpul, bila PKB siap tampil untuk menang bersama Haris Sudarno. Kini kita tunggu perkembangannya, PKB maju ke Pilgup Jatim 2008 untuk menang atau untuk kalah. Bila untuk kalah, berarti satu poin untuk PKNU, yang berjuang demi kebenaran dan keadilan sebagaimana mottonya, sekaligus bekal untuk berlaga di putaran kompetisi berikutnya, tahun 2013. [priono Subardan]

< Sebelumnya   Selanjutnya >
iklan
Baris, Gratis-Berbayar
webtorial
WebLinks
Wanita HeadLines
Direktori Anda
pemerintah daerah
hobi • otomotif
Peduli
kolom rakyat
Jumlah Kunjungan
1221104

UUD 45 Pasal 28 f Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia.