|
2008 Resiko Pupuk Hilang dari Pasaran Masih Prospektif |
|
|
|
::sinawar:: -
Benang Merah
|
|
22 Feb 2008, Jumat |
ASUMSI petani senantiasa ditempatkan sebagai kaum miskin yang termaginalkan, tampaknya sulit dihindari. Ini terutama bila tata niaga seputar pupuk masih tetap tidak berjati diri. Jalan ceritanya selalu keruh. Petani pun harus selalu was-was atas resiko hilangnya pupuk di pasaran. Begitu pun pada 2008. Berikut ini Ir Sjamsul Huda, MM, Anggota Komisi B (perekonomian) DPRD Propinsi Jawa Timur menulis secara gamblang persoalan pupuk, yang bagai hantu bagi petani.Pupuk (urea) bersubsidi di sejumlah daerah di Jawa Timur pernah menghilang di pasaran sebelum musim tanam 2006. Meski waktu itu musim tanam tahun 2006 belum serentak, tanda-tanda sulitnya ditemui pupuk berharga murah di pasaran dewasa ini bukan tidak mungkin akan terjadi seperti tahun lalu, yakni menghilangnya semua jenis pupuk bersubsidi di pasaran.
Pelajaran ini tidak boleh terulang pada tahun 2008. Sebab, hilangnya pupuk di tahun 2006 tersebut sebagai pembenar di kalangan petani bahwa raibnya pupuk adalah penyakit menahun yang sulit sembuh. “Tradisi” itu tampaknya bukan dikarenakan konsekuensi dari hukum ekonomi, melainkan sebuah sistim untuk tetap menempatkan petani sebagai kaum miskin yang termaginalkan.
:: Baca lebih detil :: |