KEBERADAAN Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) sebagai awal legitimasi berkuasanya Jenderal Soeharto selama 32, hingga saat ini belum jelas. Bahkan, Wakil Presiden (Wapres) M Jusuf Kalla pun tidak mengetahuinya, meski sempat bertemu dan bertanya langsung kepada Jenderal (Purn) M Jusuf, tokoh yang menjadi salah satu kunci rahasia Surat Perintah 11 Maret 1966, yang dikeluarkan oleh Presiden RI Pertama Ir. Soekarno.
"Suatu hari saya tanya kepada Jenderal (Purn) M Jusuf, sebenarnya naskah Supersemar itu yang benar satu halaman atau dua halaman?," kata Wapres M Jusuf Kalla saat HUT ke-37 harian Suara Karya di Jakarta, Selasa malam.
Namun, pertanyaan itu tidak memperoleh jawaban pasti. Jenderal yang berasal dari Sulsel, sebagaimana Kalla ini menjawab yang penting bukan satu halaman atau dua halaman Supersemar itu, tetapi Supersemar itu benar adanya.
Keberadaan Supersemar pada 1966, kata Kalla mengulang penjelasan M Jusuf, tidak lepas dari situasi waktu itu. Yakni ada dua kelompok yang saling berhadapan sehingga sangat mungkin terjadinya perang saudara. Di sisi lain, adanya kemungkinan kudeta. Solusinya dialog, dan hasil dialog tersebut Supersemar.
Terus mana naskah yang asli atau yang salinan, apakah yang bapak pegang itu asli? tanya kalla lagi. "Ah itu bukan urusan kaulah" kata Wapres menirukan jawaban Jenderal (Purn) M Jusuf.
:: Baca lebih detil ::