|
Mimpi Semudah di Negara Lain Mengkomsumsi BBG Indonesia |
|
|
|
15 Jun 2006, Kamis |
|
ADALAH wajar berkeinginan atau iri sebagaimana masyarakat Singapura, Malaysia atau Tiongkok yang kian mudah menikmati gas dari Indonesia. Gas memang bahan bakar impian. Apalagi, Indonesia yang merupakan negara produsen dan pengeskpor LNG nomor satu dunia.
Hingga saat ini belum diketahui pasti kapan dapat menikmati BBG sebagaimana BBM yang makin mahal itu. Sementara, gerakan "mem-BBG-kan BBM", sangat dikhawatirkan bernasib sama dengan "program langit biru" yang tak jelas juntrugannya. Kenyataannya pemerintah malah menaikkan harga liquid petrolum gas (lpg) dan juga gas yang dijual oleh Perusahaan Gas Negara (PGN) tahun lalu.
Mimpi itu sendiri sesungguhnya sebagai hal yang realistis. Pendapat BBG sebagai alternatif paling favorit juga tidak ngawur. Bertolak banyaknya negara yang meningkatkan konsumsi BBG dan menekan BBM, sebuah indikasi BBG merupakan pilihan terbaik. BBG kandungan panasnya tinggi. Pembakaran bersih. Lebih murah dan lebih ramah terhadap lingkungan.
Cina misalnya, kabarnya, tengah mempercepat pembangunan fasilitas untuk mengantisipasi peningkatan konsumsi LNG di dalam negerinya. Cina Offshore dan mitranya merencanakan proyek LNG senilai US$ 4,3 miliar dolar di Yuan Zhejiang. Cina akan meningkatkan pemakaian LNG dari tingkat 3 persen dari total konsumsi energi, menjadi 8 persen dari total konsumsi energi di Cina pada tahun 2010. Dengan demikian peningkatan konsumsi LNG mencapai sebesar 266 persen.
Demikian pula Singapura dan Malaysia. Bahkan kedua negara ini memperoleh dukungan penuh dari Indonesia atas kepentingannya penyediaan BBG. Di sini Perusahaan Gas negara (PGN) Indonesia membangun pipa gas ke Singapura dan Malaysia guna memperlancar suplai-nya.
Perihal gas Indonesia memang kaya. Berdasarkan data Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), diketahui cadangan gas bumi per akhir 31 Januari 2005 mengalami penambahan dari hasil penemuan baru sebesar 3,36 triliun standar kaki kubik (TSCF). Selain itu, terdapat penambahan cadangan dari hasil revisi data sebelumnya sebesar 4,906 TSCF. Cadangan seluruhnya mencapai 170 TCF
Cadangan gas itu diperkirakan juga terus bertambah mengingat adanya 22 cekungan hidrokarbon yang belum dilakukan pengeboran. Adapun dari sejumlah 38 cekungan yang sudah dibor, masih ada 15 cekungan yang belum menemukan cadangan dan memerlukan kegiatan eksplorasi lebih lanjut.
Bertolak pada asumsi sederhana, juga berpegang pada kenyataan yang terjadi di sejumlah negara, kiranya "Mimpi Semudah di Negara Lain Mengkomsumsi BBG Indonesia" bukanlah mimpi yang nglantur. Sebaliknya, kebijakan pemerintah perihal energi kenyataannya memang sulit di mengerti.
Bertahan dengan BBM sangat tidak menguntungkan banyak pihak. Apalagi sumber BBM semakin menipis setelah masa eksplorasi sejak penjajahan Belanda pada 1880. Belum lagi harga minyak dunia yang terus naik hingga menyentuh angka US$ 55 per barel. Masih mampukah Pemerintah menanggung subsidi minyak yang tahun ini saja mencapai Rp 63 triliun?
Itulah kenyataan yang terjadi dan kenyataan yang lain membangun infrastruktur Rp 15 triliun, biaya pembangunan pipa Kalimantan – Jawa, diperhitungkan lebih berat dibanding membiayai subsidi BBM yang mencapai diatas Rp 60 triliun itu. Ini artinya mimpi itu makin sulit terwujudkan, walau kenyataannya lebih mudah dipahami.(1201) |
|
Terakhir diperbaharui ( 21 Mei 2008, Rabu )
|